Mengenal Filosofi Kain Endek Bali, Wastra Indonesia yang Dipakai dalam Koleksi Christian Dior

By Cerysa Nur Insani, Selasa, 19 Januari 2021 | 15:45 WIB
Mengenal Filosofi Kain Endek Bali, Wastra Indonesia yang Dipakai dalam Koleksi Christian Dior (Kompas.com)

Kemudian pada tahun 1996-2012, kain Endek sempat mengalami penurunan akibat dari banyaknya persaingan. Penurunan ini juga disebabkan karena bahan baku yang sulit didapat.

Namun, pada tahun 2011 kain endek mulai berkembang kembali karena murahnya bahan baku dan mulai diminati sebagai bahan membuat seragam.

Bahkan di Bali, sudah ada pemilihan Duta Endek untuk melestarikan kain ini.

Proses pewarnaan motif pada benang dalam pembuatan kain Endek Bali. (Kompas.com)

Kain Endek Bali diketahui sebagai kain yang dibuat dengan metode ikatan ganda atau dobel ikat. Endek Bali biasanya memiliki beragam motif bertemakan flora, fauna, dan pemandangan atau landscape.

Yang membuat kain ini menjadi istimewa, umumnya kain Endek Bali diwarnai dengan warna-warna alami dari tumbuhan. Hal ini menjadi ciri khas tersendiri dari kain tenun ini.

Baca Juga: Tak Hanya Dior, Rumah Mode Internasional Ini Juga Pernah Angkat Tema Etnik dengan Kain Indonesia!

“Karena ini hasil tenunan, jadi nyaris tidak ada duanya, tidak ada yang sama,” ujar Guru Besar Bidang Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Prof I Gede Pitana kepada Kompas.com.

Berbeda dengan kain batik yang memiliki aturan penggunaannya, seperti batik motif parang yang hanya boleh digunakan oleh kalangan istana saja, kain Endek Bali bisa digunakan oleh masyarakat umum.

Hanya saja, pada zaman dahulu, karena pembuatannya yang tak mudah, kain ini dibanderol dengan harga yang cukup mahal.

“Maka dulu dia merupakan kain elit, jadi hanya mereka yang punya kemampuan secara finansial yang mampu membeli, bukan karena larangan (adat),” ujar Pitana lagi.

Kini, kain Endek menjadi salah satu kain khas Bali yang wajib digunakan di sekolah maupun di perusahaan saat hari Jumat.